PENGUMUMAN :
09Jun

BP Batam Lakukan Penyesuaian Pass Penumpang Domestik Khusus Kapal Pelni Mulai 1 Juli 2026

Badan Pengusahaan (BP) Batam melalui Badan Pengelolaan dan Pengusahaan Kepelabuhanan akan memberlakukan penyesuaian tarif pass penumpang domestik khusus pengguna kapal PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) untuk jadwal keberangkatan kapal mulai 1 Juli 2026.

Penyesuaian tersebut mengacu pada Peraturan Kepala BP Batam Nomor 4 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Kepelabuhanan di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, yang menetapkan tarif pass penumpang domestik khusus kapal Pelni dari semula Rp10.000 menjadi Rp35.000 per penumpang.

Direktur Badan Pengelolaan dan Pengusahaan Kepelabuhanan BP Batam, Benny Syahroni, menjelaskan bahwa BP Batam telah melaksanakan sosialisasi Peraturan Kepala BP Batam Nomor 4 Tahun 2026 kepada para pemangku kepentingan pada 26 Mei 2026. Pada saat itu, penyesuaian tarif direncanakan berlaku pada tanggal yang sama.

Namun demikian, setelah mempertimbangkan bahwa tiket kapal Pelni untuk perjalanan selama Juni 2026 telah dipasarkan dan dibeli masyarakat jauh hari sebelumnya dengan komponen biaya yang telah ditetapkan, BP Batam memutuskan untuk memberikan masa transisi sebelum penerapan tarif baru.

“Kami memahami bahwa sebagian besar tiket kapal Pelni untuk keberangkatan selama bulan Juni telah dibeli masyarakat sebelum sosialisasi dilakukan. Oleh karena itu, penerapan tarif pass penumpang domestik yang baru kami berlakukan untuk keberangkatan mulai 1 Juli 2026 agar proses transisi berjalan dengan baik serta memberikan kepastian bagi pengguna jasa,” ujar Benny.

Menurut Benny, kebijakan tersebut diambil untuk menghindari kendala administratif sekaligus memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan optimal selama masa penyesuaian.

Lebih lanjut, Benny menegaskan bahwa tarif pass penumpang domestik khusus kapal Pelni di Pelabuhan Batam masih berada pada tingkat yang kompetitif dibandingkan sejumlah pelabuhan lainnya di Indonesia. Berdasarkan penyesuaian tarif yang berlaku di beberapa pelabuhan yang melayani Kapal Pelni, tarif pass penumpang di sejumlah pelabuhan utama telah mencapai kisaran Rp37.500 hingga Rp47.500 per penumpang.

“Dengan tarif sebesar Rp35.000, Pelabuhan Batam masih berada di bawah beberapa pelabuhan utama lainnya. Karena itu, penyesuaian ini tetap berada dalam batas yang wajar dan sejalan dengan upaya peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa penyesuaian tarif tersebut merupakan bagian dari upaya BP Batam dalam menjaga dan meningkatkan kualitas layanan terminal penumpang, pemeliharaan fasilitas kepelabuhanan, serta mendukung keberlanjutan pelayanan transportasi laut yang aman, nyaman, dan andal.

Benny mengimbau seluruh pengguna jasa untuk memperhatikan informasi tarif terbaru serta memperoleh informasi resmi melalui kanal komunikasi BP Batam dan PT Pelni guna menghindari kesalahpahaman terkait penerapan kebijakan tersebut.

“Kami berharap masyarakat dapat memahami penyesuaian ini sebagai bagian dari upaya peningkatan layanan kepelabuhanan yang lebih baik bagi seluruh pengguna jasa,” tutup Benny.

03Jun

Direct Call Internasional TPK Batu Ampar Melonjak 212 Persen, Perkuat Posisi Batam sebagai Gerbang Logistik Regional

Batam, Mei 2026-Kinerja layanan direct call internasional di Terminal Peti Kemas (TPK) Batu Ampar menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan. Berdasarkan data operasional Batu Ampar Container Terminal, jumlah direct call internasional pada Januari-Mei 2026 mencapai 106 call meningkat 212% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencatatkan 34 call.

Dari sisi volume peti kemas tercatat sebanyak 58.237 TEUs atau meningkat 125% dari 25.904 TEUs peti kemas direct call di periode Januari-Mei 2025.

Peningkatan jumlah kunjungan kapal dan volume peti kemas pelayaran langsung atau direct call tersebut menjadi indikator semakin kuatnya daya saing pelabuhan Batam dalam mendukung arus perdagangan internasional dan konektivitas logistik kawasan.

Direktur Badan Pengelolaan dan Pengusahaan Kepelabuhanan BP Batam, Benny Syahroni, mengatakan bahwa capaian tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan pelayaran internasional terhadap layanan dan fasilitas di TPK Batu Ampar.

“Peningkatan frekuensi layanan dan volume peti kemas direct call menjadi indikator bahwa berbagai upaya peningkatan layanan, efisiensi operasional, dan pengembangan infrastruktur pelabuhan yang dilakukan BP Batam telah berjalan pada arah yang tepat,” ujar Benny dalam keterangan resminya, Selasa, (2/6).

Ia menambahkan, pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan frekuensi layanan dari pelayaran eksisting serta hadirnya layanan baru.

Jika pada periode Januari-Mei 2025 direct call internasional hanya dilayani oleh SITC dan Evergreen, maka pada periode Januari-Mei 2026 jaringan layanan tersebut semakin diperkuat dengan bergabungnya Samudera dan COSCO Shipping.

Disebutkan, layanan direct call internasional dilayani oleh SITC sebanyak 55 call dengan volume 32.266 TEUs, Evergreen sebanyak 30 call dengan volume 14.792 TEUs, Samudera sebanyak 11 call dengan volume 7.103 TEUs, serta COSCO Shipping sebanyak 10 call dengan volume 4.077 TEUs.

Menurut Benny, kehadiran layanan baru tersebut memperluas pilihan konektivitas bagi pelaku usaha dan memberikan efisiensi yang lebih baik dalam distribusi barang ekspor maupun impor.

“Semakin banyaknya pelayaran yang membuka layanan direct call ke Terminal Peti Kemas Batu Ampar memberikan manfaat nyata bagi dunia usaha karena dapat mempersingkat waktu pengiriman, meningkatkan kepastian jadwal, serta menekan biaya logistik. Hal ini tentu akan mendukung daya saing industri dan investasi di Kota Batam sebagai komitmen Kepala BP Batam dan Wakil Kepala BP Batam,” tambahnya.

Dari sisi konektivitas, layanan direct call internasional TPK Batu Ampar saat ini telah terhubung langsung dengan berbagai pelabuhan utama di Asia, antara lain Shanghai, Ningbo, Shekou, Nansha, Yangpu, dan Qinzhou di Tiongkok; Haiphong dan Ho Chi Minh City di Vietnam; Port Klang, Kuantan, Kota Kinabalu, dan Kuching di Malaysia; Singapura; Laem Chabang di Thailand; Sihanoukville di Kamboja; serta Yangon di Myanmar.

Sementara, Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, menilai perkembangan tersebut menjadi bukti semakin kuatnya posisi Batam dalam jaringan logistik regional, khususnya di jalur perdagangan internasional kawasan Selat Malaka.

“Jaringan direct call internasional TPK Batu Ampar saat ini telah menjangkau sedikitnya tujuh negara utama di Asia. Konektivitas ini menjadi faktor penting dalam meningkatkan kelancaran rantai pasok dan memperkuat peran Batam sebagai pusat logistik, perdagangan, dan industri yang terintegrasi dengan pasar global,” jelas Denny.

Ia menambahkan bahwa BP Batam akan terus mendorong peningkatan kualitas layanan kepelabuhanan bersama mitra pengelola, termasuk pengembangan fasilitas terminal, digitalisasi layanan, serta kolaborasi dengan pelayaran internasional guna membuka peluang rute-rute baru yang dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah dan nasional.

“Ke depan, BP Batam bersama mitra pengelola akan terus memperkuat konektivitas internasional melalui peningkatan kapasitas terminal, optimalisasi layanan, dan perluasan kerja sama dengan pelayaran global. Dengan pertumbuhan direct call dari sisi kunjungan kapal dan volume peti kemas, Terminal Peti Kemas Batu Ampar semakin menunjukkan perannya sebagai gerbang logistik internasional yang strategis dan pusat distribusi perdagangan di kawasan Selat Malaka,” tegas Denny.

16Apr

Kinerja BP Batam Triwulan 1 2026: Sektor Logistik Menguat, Volume Peti Kemas Tembus 187 Ribu TEUs

Batam, April 2026 – BP Batam melalui Direktorat Pengelolaan Kepelabuhanan mencatat kinerja operasional yang positif pada Triwulan I 2026, ditandai dengan pertumbuhan volume bongkar muat peti kemas sebesar 12% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 menjadi 187.156 TEUs.

Dari total throughput tersebut, sebesar 69% ditopang oleh aktivitas di Terminal Peti Kemas Batu Ampar yang mencapai 128.556 TEUs atau tumbuh 22% dibandingkan Triwulan I 2025. Dari sisi perdagangan, aktivitas ekspor dan impor mendominasi dengan porsi 74% dari total arus peti kemas di pelabuhan Batam.

Kinerja logistik ini turut didukung oleh aktivitas bongkar muat general cargo yang mencapai 2,9 juta ton atau meningkat 8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Terminal Curah Cair Kabil menjadi kontributor terbesar dengan volume 1,09 juta ton dan pertumbuhan sebesar 21%.

Di sisi kunjungan kapal, tercatat sebanyak 27.170 call atau meningkat 4% dibandingkan Triwulan I 2025. Selain itu, ukuran kapal yang bersandar juga menunjukkan peningkatan, dengan total Gross Tonnage (GT) mencapai 19,6 juta GT atau naik 15%, yang mencerminkan semakin banyaknya kapal berkapasitas besar yang beroperasi di perairan Batam.

Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menegaskan bahwa capaian ini mencerminkan semakin kuatnya peran Batam sebagai simpul logistik strategis di kawasan.

“Pertumbuhan di sektor logistik ini menunjukkan bahwa Batam semakin dipercaya sebagai hub konektivitas regional. Kami akan terus memperkuat ekosistem kepelabuhanan yang terintegrasi guna mendukung arus logistik, investasi, dan mobilitas secara berkelanjutan,” ujar Amsakar Achmad.

Selain kinerja logistik, sektor layanan penumpang juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Sepanjang Triwulan I 2026, jumlah penumpang di terminal ferry domestik dan internasional wilayah kerja BP Batam tercatat mencapai 2.507.630 orang atau meningkat 15% dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Rute internasional masih mendominasi dengan 1.316.495 penumpang atau tumbuh 11%, khususnya menuju Singapura dan Malaysia. Sementara itu, penumpang domestik mencatat pertumbuhan lebih tinggi sebesar 20% menjadi 1.191.135 orang. Terminal Ferry Internasional Batam Centre dan Terminal Ferry Domestik Telaga Punggur menjadi titik tersibuk dalam melayani mobilitas tersebut.

Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, menambahkan bahwa peningkatan kinerja harus diiringi dengan kualitas layanan yang semakin baik, sejalan dengan perluasan cakupan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam melalui Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2025.

“Kami mendorong layanan kepelabuhanan yang semakin adaptif dan responsif terhadap kebutuhan pengguna jasa, terlebih dengan semakin luasnya wilayah kerja KPBPB Batam. Dengan dukungan regulasi tersebut, kami optimistis layanan akan semakin terintegrasi sehingga manfaat pertumbuhan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan pelaku usaha,” ujar Li Claudia.

Anggota Deputi/Bidang Pengusahaan, Denny Tondano yang membawahi Direktorat Pengelolaan Kepelabuhanan, menyampaikan bahwa pihaknya akan terus memperkuat koordinasi antar-stakeholder serta mengoptimalkan layanan di seluruh pelabuhan guna menjaga konsistensi peningkatan kinerja dan kualitas pelayanan.

“Ke depan, kami akan terus mendorong digitalisasi layanan, termasuk pembenahan e-ticketing dan integrasi sistem antar terminal, sehingga layanan menjadi lebih mudah, cepat, dan terintegrasi bagi seluruh pengguna jasa,” ujar Denny.

FacebookInstagramYoutube
We Are Here!

Layanan B-Care